Sangkredan Sebuah Adat Tradisi dan Harapan Petani

Macopat
Tepat di pertengahan malam (kamis 6/2/14) asap kemenyan mengepul memenuhi seisi ruang aula balai desa yang dijadikan tempat rangkaian upacara adat tradisi sangkredan, para pamong desa berkumpul duduk bersila sementara sang pujangga macopat membuka buku syair macopat. Ditengah-tengah terdapat rupa – rupa sesajen, taklama kemudian kidung macopatpun dilantunkan semua mendengarkan walaupun tak yakin semua memahami kata perkata syairnya, maklum bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa kuna yang kadang-kadang terdengar pula bahasa sansekerta. Sungguh eksotik, budaya dan adat tradisi desa. Kehidupan orang-orang desa tak lepas dari filosofi, semua simbol-simbol upacara yang dianggap sesajen tak lain adalah gambaran tuntunan perilaku manusia.

Sebagai salah satu contoh Nasi Tumpeng sesajen yang dihadirkan mengandung makna filosofis bahwa alam atau lingkungan kehidupan harus tetap terjaga, hal ini mengingatkan kepada seluruh keturunan agar tetap waspada karena bangsa ini hidup di wilayah gunung berapi atau daerah yang rawan bencana. Contoh yang lain adalah Kembang setaman dalam versi jawa dermayon terdiri dari beberapa jenis bunga. Yakni, mawar, melati, kanthil, dan kenanga dan kesemuanya memiliki makna simbolis tersendiri.

Simbol Upacara

Kanthil atau tansah kumanthil-kanthil, yang bermakna pula kasih sayang yang mendalam tiada terputus, curahan kasih sayang kepada seluruh makhluk. Selanjutnya Kembang melati, atau mlathi, bermakna filosofis bahwa setiap orang melakukan segala kebaikan hendaklah melibatkan hati dan bukan ragawi saja. Kembang Kenanga atau kenang-en ing angga. Bermakna filosofis agar supaya anak turun selalu mengenang, semua “pusaka” warisan leluhur berupa benda-benda seni, tradisi, kesenian, kebudayaan, filsafat, dan ilmu spiritual yang banyak mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Kembang Mawar, atau awar-awar ben tawar. Buatlah hati menjadi “tawar” alias tulus. Jadi niat tersebut harus berdasarkan ketulusan, menjalani segala sesuatu tanpa pamrih.

Berdoa sebelum berangkat

“Pemerintah Desa Majasari tidak berniat menghilangkan adat tradisi, namun perlu penggalian lebih dalam, baik dari sejarah, maksud dan filosofi dari adat-adat desa yang kita laksanakan, dan memastikan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, hal itu tidak lain agar menjaga akidah kita sebagai orang muslim,” papar Kuwu Wartono.

Sebelum upacara macopat, telah dilaksanakan do’a bersama yang dipimpin oleh K. Kanan seorang ulama sepuh desa Majasari dan yang inti dari acara sangkredan adalah para pamong desa berkeliling desa menyebar air dari kasepuhan yang telah di doakan pada titik aliran sungai yang mengaliri sawah di seluruh Desa Majasari tepat setelah Shubuh, berjalan dan melafalkan dzikir tanpa boleh berbicara.
Para Pamong Desa Mengelilingi Desa membawa Air Do’a

Upacara sangkredan yang dilaksanakan setiap pasca tanam padi musim rendengan (penghujan) diyakini oleh masyarakat Cirebon dan Indramayu, pernah dilakukan Ki Kuwu Sangkan saat sawah dan ladang rakyatnya diserang hama penyakit, untuk menanggulanginya  Ki Kuwu Sangkan mengobatinya dengan air yang dibawanya dengan bumbung (bambu).

Benar atau tidak cerita tersebut, yang perlu kita garis bawahi adalah bentuk tanggung jawab Pemerintah Desa untuk menjaga pertanian yang merupakan lahan perekonomian sebagian warga agar terjaga dari hal-hal yang tidak di inginkan dan harapannya hasil panen masyarakat bisa melimpah. (A.45)

Facebook Comments